Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

SENJA LAWU #2

  SENJA LAWU       Kau ibarat senja. Mempunyai keindahan yang bersifat sementara. Sedangkan aku seperti malam, tidak pernah menemukan terang di setiap kau menghilang.   Kau adalah harapan di setiap angan-angan. Sebuah memori lama yang tak dapat lagi terekam. Denyut nadiku seakan terhenti oleh harapan yang kini kian suram.   Hutan, rerumputan, gunung, adalah perjalanan yang menjadi saksi bisu. Mereka tau tujuan dan maksud kedatanganku. Serapuh apapun saat itu mereka berhasil menguatkan ku. Berjuta langkah yang sudah membuatku engah, tetap saja aku tidak ingin menyerah. Menemukan titik temu di ujung senja yang hilang.     Rindu yang tidak dapat terbendung, terpenjara oleh duka. Kegelisahan pada hakikatnya akan melahirkan pertanyaan baru. Hanya diri sendiri yang tahu. Namun, tak mampu mengerti, sebab tak seorang pun ku izinkan untuk tahu perasaan ini.     Nada nan indah dan merdu yang kau nyanyikan adalah tipu belaka. ...

DIALEKTIKA LARA #1

DIALEKTIKA LARA     Harapan bersemayam bersama angan. Menjadi bayang-bayang dalam setiap ruang dialektika lara. Sebongkah kisah tertulis dalam coretan diary kecil dan tasbih yang pernah kau berikan. Hingga kini masih tersimpan dengan rapi, bertuliskan kegiatanmu sehari-hari saat kau sedang rindu. Sesekali bercerita keluh kesah atas apa yang kau lakukan saat itu.   Pulang membawa rindu dan saat itu juga kita bertemu. Senyum tawamu mengingatkan ku betapa damai dan bersykurnya aku. Ya, bersykur telah memilikimu. Tapi, dulu. Sudah 1.825 hari berlalu begitu saja tanpa sapa.   Bayanganmu pun kini tak dapat lagi ku pegang erat-erat. karena hati yang kian hari makin sekarat. Aku tidak pantas mengatakan kalau ini adalah takdir tuhan. Tetapi, ini adalah sebuah kesalahan besar yang pernah terlakukan seumur hidup mu.   Sore masih memancarkan sinar senjanya. Hujan masih saja membawa luka kenangan pahit kala itu. Dan tak satupun rindu dibiarkan menemui le...

Seiring Dengan Berjalannya Waktu

Gambar
Gambar : Lawu Via Cetho Seiring Dengan Berjalannya Waktu   “Sebuah rasa dan karsa berjuang ditengah musibah bencana. Kulit keriput tua berjuang mencari nafkah di tengah hiruk pikuknya kota, lalu merintih   kelaparan. Manusia keji tidak peduli hal itu karena harta dan tahta sudah memperdaya akal sehatnya”. (Rio, 2 Januari 2021) Dengan terus berjalannya waktu semua yang terlakukan tidaklah terasa. Bahkan kitapun sampai kebingunan waktu yang sudah dijalani sangat lah cepat dan terasa singkat. Sadarlah akan hal itu. Ketika orang-orang sangat asik menghabiskan uangnya untuk membeli rokok dan minuman keras, aku bahkan melakukan hal sebaliknya memanfaatkan uang dengan membeli makanan dan minuman yang membuatku selalu mempertahankan fisik dan kesehatan untuk mempersipakan hari tua kelak. Terjatuh lalu bangkit, terhalang teruslah melawan, di caci teruslah merendah, dihina tetaplah tegar. Sebuah wejangan yang sering terlontarkan oleh seorang bapak dan ibu ketika sedang menasihat...