Seiring Dengan Berjalannya Waktu
Gambar : Lawu Via Cetho
Seiring Dengan
Berjalannya Waktu
“Sebuah rasa dan karsa berjuang ditengah musibah bencana. Kulit
keriput tua berjuang mencari nafkah di tengah hiruk pikuknya kota, lalu
merintih kelaparan. Manusia keji tidak
peduli hal itu karena harta dan tahta sudah memperdaya akal sehatnya”. (Rio, 2 Januari 2021)
Dengan terus berjalannya waktu semua yang terlakukan tidaklah
terasa. Bahkan kitapun sampai kebingunan waktu yang sudah dijalani sangat lah
cepat dan terasa singkat. Sadarlah akan hal itu. Ketika orang-orang sangat asik
menghabiskan uangnya untuk membeli rokok dan minuman keras, aku bahkan
melakukan hal sebaliknya memanfaatkan uang dengan membeli makanan dan minuman
yang membuatku selalu mempertahankan fisik dan kesehatan untuk mempersipakan
hari tua kelak.
Terjatuh lalu bangkit, terhalang teruslah melawan, di caci
teruslah merendah, dihina tetaplah tegar. Sebuah wejangan yang sering
terlontarkan oleh seorang bapak dan ibu ketika sedang menasihati anaknya yang
pada waktu itu belum tau apa-apa. Karena orang tua adalah sebuah panutan bagi
anak-anaknya maka, sering kali ketika berada dirumah sedang berkumpul dan
bercerita di ruang tamu mereka memberi nasihat baik itu nasihat teguran maupun
nasihat agar nanti kelak ketika anaknya sudah beranjak dewasa ia akan tahu
bagaimana pengorbanan seseorang untuk mencapai tujuannya. Seorang bapak dengan
watak dan sifatnya yang keras dan tegas namun sering diam. Dan ibu sedikit agak
cerewet namun penyabar. Kedua orang itu
sangatlah hebat “ya” ibu dan bapak ku. Latar belakang hanya seorang petani
kelapa sawit yang sudah lama sekali mereka merantau di sumatera tepatnya di
Riau. Bapak dan ibuku asli orang Jogja. Mereka tinggal satu desa bahkan satu
RT. hehe.. mungkin saja mereka sudah jodoh sejak dulu. Namun, pada tahun 1996
mereka melalukan transmigrasi ke Riau, biasa orang menyebutnya Merantau. Bapak dan ibuku dengan latar
pendidikan hanya tamatan SD bukanlah suatu hal yang harus aku sesal kan. tetapi, aku sangat bersyukur mereka bisa mendidik ku hingga sekarang ini. Sebuah
cita-cita besar dan mulia bagi mereka yang hanya seorang tamatan SD, kemudian
mereka bisa menyekolahkan anaknya hingga kejenjang perkuliahan. Terimakasih
sebesar-besarnya ku ucapkan kepada kedua orangtuaku yang telah mendidik anakmu
hingga sekarang ini dengan penuh rasa semangat dan ulet. Bangga rasanya bisa
punya kedua orang tua seperti kalian. Bahkan, tidak semua anak diperlakukan
dengan baik. Tidak semua orang diberikan kasih sayang secara adil terhadap
orang tuanya. Namun, sangat besar sekali rasa syukur yang telah diberikan
kepada ku hingga saat ini rasa dan kasih sayang sangat bahagia tak terhingga.
Ketika 2021 datang, aku menyambutnya dengan kegembiraan. Entah
itu akan mejadi tahun baik atau bukan aku menyabutnya dengan sangat baik. Setelah
23 tahun lamanya hidup di bumi, tidak terasa bahwa sudah banyak sekali
perjalanan yang sudah terlalui. Dari bocah ingusan hingga menjadi pria dewasa
yang gagah, tinggi, dan tegap. Tepat hari ini memasuki awal tahun 2021. “ya”
kalau difikir-fikir sangat cepat sekali bukan. Tidak sabar dengan kejutan apa
yang akan menantiku dibulan-bulan lusa nanti. Melewati tahun yang unik dengan
musibah yang tidak terduga-duga membuat semua manusia yang hidup dimuka bumi ini
terkena dampaknya secara global.
Hidup 23 tahun lamanya bagiku bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak sekali lubang yang membuatku terjatuh lalu berdiri untuk terus bangkit.
Namun, banyak pelajaran berharga di setiap perjalanan, hingga setiap tempat. Bahkan, pada saat merasakan kesulitan sekalipun. Seiring dengan berjalannya waktu semua
akan terlatih dan terbiasa dengan keadaan sesulit apapun. Sampai tidak mengenal
rasa sakit itu karena sudah terbiasa jatuh lalu tahu bagaimana akan berdiri
bangkit. Wejangan demi wejangan sering kali di ucapkan bapak dan ibu setiap kali
menelfon ku. Tak lupa juga nasihat dan petuahnya yang sering kali di ucap selalu
ter ngiang-ngiang di kepalaku. Terkadang sambil bercanda gurau dengan bapak ibu
adalah hal yang paling aku sukai. Senang rasanya bisa melihat mereka terus
tertawa. Bahkan, setiap kali menelfonku mereka selalu menceritakan kisahku waktu
masih anak kecil yang sering kelayapan siang lalu, menangis ketika ingin disuruh
tidur. Masih ingat sekali dulu ketika panas siang yang begitu terik aku mencari
belalang di lapangan sepak bola sampai ibu teriak-teriak memanggil. Aku berlari
karena enggan untuk tidur siang, ketika sore tiba lalu pulang kerumah habislah
sudah ibu memegang gagang sapu kemudian memarahi ku hingga menangis. Haha.. kalau
di ingat-ingat sangat lucu tetapi, itu sudah 15 tahun berlalu. Hingga saat ini
masih tidak percaya rasanya sudah sampi disini saja perjalanku. Ketika difase
remaja sampai dewasa barulah menyadari bahwa keluarga adalah segalanyasegalanya. Sudah 2 tahun lamanya saya tidak memijak kan kaki kerumah karena terhalang oleh
musibah pandemi. Tetapi, selalu bersyukur karena masih bisa berkomunikasi
melalui handpone dengan cara video call. Bisa melihatnya dari kejauhan saja
sudah sangat senang sekali, apalagi jika pulang lebaran nanti. Semoga saja kita
selalu dimurahkan rezeki dan selalu diberi kesehatan. Penantian yang
panjang setelah 2 tahun lamanya tidak pulang kerumah dan sangat rindu dengan
masakan ibu. Ketika sedang memasak di kontrakan pun ibu sering sekali menelfon
melihat anaknya yang sudah handal memasak ini. Dengan ketawanya yang girang
melihat sosok anak pertamanya yang sudah tumbuh dewasa dan hidup mandiri. Juga terlihat jelas di raut wajahnya bahwa ia senang bercampur sedih. Setiap kali
menyantap makanan masakan yang sudah kubuat ibu selalu menanyakan rasa
masakan ku, sudah tentu jawabannya adalah “Enak”. Ketika sudah dirumah nanti aku
ingin sekali masak denganmu bu, membuat makanan kesukaan ku yang langsung
dibuat oleh tanganmu. Rasa masakan yang sudah ku makan sejak aku masih bocah
ingusan hingga aku dewasa. Tidak ingin rasanya waktu ini terus berjalan lalu
melihat kedua orang tua ku menjadi semakin tua. Kulit mereka yang semakin hari
menjadi keriput lalu tenaga yang tidak begitu kuat lagi. Rasanya masih belum
siap dengan keadaan ini. Kita sebagai manusia biasa, tidak bisa memaksa sebuah
takdir yang sudah di gariskan oleh sang pencipta. Kewajiban kita hanyalah
menjalankan perintahnya tetaplah bersyukur dan terus berdoa, semangat, dan
kerja keras. Dengan terus berjalannya waktu kita akan terus bertambah dewasa
dan mereka pun semakin tua. Semakin ku beranjak dewasa semakin sedikit waktu
yang kuberikan kepada kalian pak, buk. Tetapi, sebisa mungkin menyempatkan waktu
untuk selalu menelfon kalian setiap hari. Tunggu kedatanganku lebaran tahun ini
pak, bu anakmu akan pulang I LOVE YOU. (Rio,
2 Januari 2021)
