SENJA LAWU #2
SENJA
LAWU
Kau
ibarat senja. Mempunyai keindahan yang bersifat sementara. Sedangkan aku
seperti malam, tidak pernah menemukan terang di setiap kau menghilang. Kau adalah harapan di setiap angan-angan.
Sebuah memori lama yang tak dapat lagi terekam. Denyut nadiku seakan terhenti
oleh harapan yang kini kian suram.
Hutan,
rerumputan, gunung, adalah perjalanan yang menjadi saksi bisu. Mereka tau
tujuan dan maksud kedatanganku. Serapuh apapun saat itu mereka berhasil
menguatkan ku. Berjuta langkah yang sudah membuatku engah, tetap saja aku tidak
ingin menyerah. Menemukan titik temu di ujung senja yang hilang.
Rindu
yang tidak dapat terbendung, terpenjara oleh duka. Kegelisahan pada hakikatnya
akan melahirkan pertanyaan baru. Hanya diri sendiri yang tahu. Namun, tak mampu
mengerti, sebab tak seorang pun ku izinkan untuk tahu perasaan ini.
Nada
nan indah dan merdu yang kau nyanyikan adalah tipu belaka. Dengan maksud
menyapa ku melalui sebuah alunan lagu. Kau sengaja bernyanyi untuk menyapaikan
sebuah teka-teki. Tapi sayangnya, di sela-sela kau bernyanyi ada pemandangan yang
tak ingin ku lihat. Kau pasti tahu.
Pak,
bu, aku rindu masa kecilku dulu. Berlari kesana kemari hingga tertawa riang
gembira tidak tahu menahu arti kehilangan seseorang. Bahkan ketika waktu telah
mengubah kulit mu menjadi keriput aku belum bisa jadi apa yang kalian mau.
Lantas.
Apakah kau pikir aku berhenti bersemangat ? Dengan adanya wajah baru mu yang
berdampingan dengan orang yang ada di akun instagram mu.
Bodoh
sekali aku. Perihal dirinya yang kini memiliki senyum palsu, lalu begitu saja aku
berhenti bersemangat. Kini semangatku semakin meronta membara. Bahkan aku sengaja
membutakan mata agar tidak membaca notif yang sering kau kirim melalui gmail ku.
Persetan apapun itu aku tidak perduli.
Semasa
SMK, aku sangat sibuk mengikuti organisasi dan ektrakurikuler. Namun, yang
paling mengesankan adalah pertemuan kita ketika berada di sebuah ektrakurikuler
musikalisasi puisi. Aku rasa itu pertama kali kita bertemu. Pertama kali juga
kita saling mengenal. Bertegur sapa denganmu serasa malu-malu. Melihat mu berakting
dengan tingkah seperti anak kecil membuatku kasmaran saat itu. Mulai Saat itu
juga, rasa gugup ku terlihat setiap kali ingin berlatih diruang seni
musikalisasi.
Aku
yakin kau merasakan hal yang sama sepertiku. Aku sangat begitu yakin ketika
dulu kau menanyakan keadaanku yang sedang sakit. Dengan rasa khawatir kau menanyakan
kondisi ku karena tidak hadir pada saat latihan musikalisasi. Ada beberapa hal
sedari dulu yang ingin ku katakan padamu. Yang pertama, mengapa kau begitu
yakin menaruh separuh hatimu kepadaku? Kedua, kenapa kau begitu yakin denganku,
sedangkan pada saat itu rekan musikalisasi ku suka dengan mu juga?
Senja
melenyapkan jingganya sore itu. Tatkala dulu tidak saling menyapa dan berbalas
pesan. Sudah pasti kita hanya sebatas teman dan tidak terdengar lantunan sayang
di pesan ku dan pesan mu.
Namun,
siapa sangka, itulah awal mula dua orang saling mencinta.
Dulu,
aku sangat begitu termangu oleh keindahanmu. Hatimu begitu lemah dan lembut. Ragaku berkata
bahwa kau lah wanita yang kucari selama ini.
Namun,
mimpi untuk singgah selamanya dihatimu kini hanya tinggal angan saja. Bahkan
seperti cerita dongeng sebelum tidur. Ah, sudahlah namanya juga takdir aku
percaya bahwa tuhan itu adil dan maha pembolak-balik hati hambanya yang mau
bersabar, tawakal, dan istiqamah.
Aku akan selalu bertamu dengan alam dan rimbunnya
hutan. Seberapa sering aku mengingatmu. Akan ku lampiaskan pada kensunyian pegunungan.
Senja
( n )
waktu (hari) setengah gelap sesudah matahari terbenam.
Lawu
( n ) Adalah nama gunung terletak di antara tiga kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Bercerita tentang hari yang begitu singkat dan begitu cepat. Waktu yang
cukup lama untuk menyembuhkan sebuah luka. Tetapi luka itu sembuh ketika
menginjakkan kaki di hutan dan gunung yang begitu sejuk dan damai. Seketika hidup
menjadi bermakna dan bersemangat lagi ketika senja menyapa dengan irama.