DIALEKTIKA LARA #1


DIALEKTIKA

LARA

 

 

Harapan bersemayam bersama angan. Menjadi bayang-bayang dalam setiap ruang dialektika lara. Sebongkah kisah tertulis dalam coretan diary kecil dan tasbih yang pernah kau berikan. Hingga kini masih tersimpan dengan rapi, bertuliskan kegiatanmu sehari-hari saat kau sedang rindu. Sesekali bercerita keluh kesah atas apa yang kau lakukan saat itu.

 

Pulang membawa rindu dan saat itu juga kita bertemu. Senyum tawamu mengingatkan ku betapa damai dan bersykurnya aku. Ya, bersykur telah memilikimu. Tapi, dulu. Sudah 1.825 hari berlalu begitu saja tanpa sapa.

 

Bayanganmu pun kini tak dapat lagi ku pegang erat-erat. karena hati yang kian hari makin sekarat. Aku tidak pantas mengatakan kalau ini adalah takdir tuhan. Tetapi, ini adalah sebuah kesalahan besar yang pernah terlakukan seumur hidup mu.

 

Sore masih memancarkan sinar senjanya. Hujan masih saja membawa luka kenangan pahit kala itu. Dan tak satupun rindu dibiarkan menemui lelahnya.

 

Jika itu yang aku pikirkan sejak awal meninggalkan Riau. Dengan kuat mau tak mau harus melangkah untuk meninggalkanmu demi meraih cita-cita ku. mulai hari itu aku meninggalkan mu dengan waktu yang cukup lama.

Mulai saat itu, pelangi tak dapat lagi terlihat.

 

Terbang di atas awan berlendetkan kursi yang empuk menuju kota Yogyakarta. Kota yang indah nan elok seperti dirimu dulu. Sedikit sedih banyak kecewa atas kepergianku demi meraih mimpi. Mulai banyak air yang menetesi pipimu karena ketidakrelaan mu. Disitulah awal mula cerita kita.

 

Aku pikir senja itu membuat candu. Kenyataannya tidak, dia hanya melihatkan keindahan dalam sekejap dengan waktu yang sangat singkat.

 

Hari demi hari telah terlewati. Menembus sang cakrawala, mendengar kabarmu berkomunikasi melalui handphone jadul kala itu. Senang mendengar suara mu yang manja, merdu, dan lucu.

Bahagia tercipta melalui telpon via suara, raut sedih yang kau pancarkan karena jarak yang memisahkan kita.

 

Usia adalah angka, sedangkan hatimu itu sangat langka.

 

Entah apa yang saat itu kau fikirkan sehingga membuatku demikian. Jemu dalam sekejap. Marah, kesal, kecewa, bercampur menjadi satu kesatuan. Baik teman maupun sahabat karib memberitahuku atas kejadian itu. Ya, benar. Karena tergiur dengan gaji dan perusahaan apalah itu aku tidak peduli. Bahkan semua orang percaya denganku bukan katamu.

 

Saat itulah semua orang tidak percaya denganmu. Bahkan sebuah batu yang keras akan kalah dengan air hujan yang terus menetesinya.

 

Dan aku mencoba agar sang fajar mengalah dengan sang mentari. Namun, tetap saja sang mentari bersikukuh untuk tetap memancarkan sinarnya. Hingga sang fajar kesal dan akhirnya dia memutuskan untuk pergi bersama senja.

 

Bagaimana dengan cara melupakanmu adalah hal yang paling aku benci di alam semesta ini. Rasa ingin pergi, namun hatiku masih peduli.

 

Ketika kopi tidak lagi memberikan aromanya dipagi hari, dan mekarnya bunga mawar tidak terlihat indah lagi bila dipandang. Apakah yang kau inginkan seperti itu? Jika iya, kenapa kau masih saja mencari tau. Mencari yang bukan sama sekali untuk memikirkanmu.


Terdiam.


Sembari termenung, mengingat kejadian 5 tahun yang lalu. Kopi yang tersaji dimeja yang sudah tak mengepulkan asap panasnya. Sudah dingin, “ujarku” dan rasanya yang sudah tidak karuan. Ya, seperti itulah lara yang sedang ku alami. Mau bagaimana lagi kalau memang pada kenyataannya terjadi dan itu tidak bisa diprediksi.


Di depan teras kontrakan.


Aku sengaja menuliskan cerita ini agar kelak kau tau. Terbelenggu oleh jarak dan waktu kala itu. Pedih memang. Menyisakan memori ingatan yang direkam oleh otak ku dan otakmu. Bahkan beberapa orang mengetahui atas perkara yang kita alami.


jika matahari selalu mengerti bulan, sungguh bumi akan selalu di sinari  indahnya bulan di kegelapan malam. Dan jika kala itu egomu luluh oleh ucapku yang sudah tidak karuan, pasti akan selalu terpancar pelangi di setiap harimu.


Kapal telah karam dan tenggelam. Tak terlihat sedikitpun tubuh kapal hingga kini. Menghilang tanpa jejak bagai hilang ditelan bumi.


Andai waktu dapat di putar kembali. Pasti semua orang akan menggunakannya. Akan mengulangnya. Kemudian, akan memperbaiki masa kelam atas apa yang telah terjadi pada dirinya dulu.


Aku pun begitu, memutar waktu ke dimensi 60 bulan yang lalu. Tepat saat pelangi selalu memancarkan keindahnya setiap hariku dan harimu.


Namun, sayang. Itu hanyalah sebuah cerita dongeng.


Dalam khayal ku menatap setiap sekat dan tangis yang kau berikan lekat-lekat. Membuat hatiku ditumbuhi ruang sendu dengan namamu sebagai singgah paling indah. Yang sesekali berkunjung, tetapi kurindukan berkali-kali.

 

Bagaimana jika dengan menghilang, bukan untuk menghindar. Namun, pergi untuk melupakan karena hati yang kian enggan.

 

 

Baju couple yang dulu pernah bersanding bersamaan denganku, hingga kini masih melekat di akun instagram mu. Jangan katakan jika hatimu masih melekat, tetapi kehadiran orang baru yang masih terposting di akunmu. Menyesal bukan berarti untuk disesalkan, bukan. Hahikatnya hatimu kuat dalam segala kondisi cuaca. Sekuat apapun hatimu maka akupun akan selalu ada didepan nya. Sampai akhirnya sang fajar benar-benar pergi meninggalkan sang mentari.

 

Doa-doa yang selalu kau panjatkan di sepertiga malam mu, dengan selalu menyebut namaku. Air yang selalu menetesi pipimu disetiap bait-bait doa yang selalu kau panjatkan.

 

Tuhan menyuruhku untuk stagnan. Tak ingin ada perasaan yang tersayat oleh sebuah harapan. Mimpi yang sudah pernah kita rencanakan sudah tak ada bedanya dengan dongeng menjelang tidur. Bahkan, aku tak ingin berdebat lagi perihal hal-hal yang membuat dadaku semakin sesak tak karuan. Melihat mentari kini senang, membuatku kini tersenyum lebar dengan pria yang kini kau dambakan. 

 

Bahkan, aku tidak percaya bahwa hatiku sekuat ini melalui banyaknya halang rintang. Setelah sekian banyak nomor silih berganti menghampiri. Pesanmu terus berirama mengeja kata demi kata. Kau begitu menjadi angkuh menceritakan kejadian. Begitu banyak permohonan maaf yang terutarakan. Tak se ucap katapun yang tertulis di jemariku. Setelah bertubi-tubi drama yang kau alami, aku tidak sanggup. Untuk meniliknya pun aku tak kuat. Sedih, kecewa, sesak, benci, dan penuh amarah.   

 

Apa yang dulu kau banggakan, kini hanya menjadi sebuah angan. Seperti angin yang tak dapat kau genggam. Terhempas hingga menembus atmosfer. Bahkan, tak dapat kau rasakan keberadaannya. Kini dia sedang berusaha meraih mimpinya di kota istimewa. Dengan banyak luka yang sudah tak dirasa.

 

Bila Tuhan memberi kesempatan. Kata apa yang akan pertama kali kau utarakan? Perihal permohonan maaf, aku sudah lama memaafkan. Bahkan ketika kau tidak memohonnya pun aku sudah memaafkan. Hanya saja aku tidak bisa mengulang cerita kita kembali karena satu hal. Ya, dia adalah orang yang sudah kau beri harapan baru. Pria baru yang paling kau dambakan.

 

Penghujung malam ditemani alunan akustik gitarku. Beberapa sunyi tak dapat terlelap, bersama gemerlapnya malam ditemani ribuan bintang-bintang.

 

Seketika muncul cahaya notif gmail dari android ku. Ya, lagi-lagi pesan darimu yang menyatakan bahwa kau sangat mencintaiku. Lalu selama ini orang yang kau dambakan sebagai apa? Sebagai pelampiasan? Atau sebagai tukang “ojek”.

 

Bukan bermaksud ingin menghindar. Namun, akan ada yang  menangis tersedu-sedu dengan harapan yang sudah kalian janjikan. Jika satu luka saja belum sembuh. Sangat lantangnya kau ingin menggoreskan sebuah luka lagi. Kau terjebak di dalam lubang yang sama. Bertindak tanpa memikirkan efeknya. Bahkan jika saja semua terlaksana. Semua yang kau rasakan selama ini akan dirasakan olehnya.

 

 

Kau hanya tau perihal perasaan. Jika saja foto itu tidak muncul di galeri IG mu. Aku ingin memberi tau sesuatu kepadamu tentang sebuah keajaiban. Ya, itu adalah doa di sepertiga malam mu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Walaupun kopiku tak semanis kopimu.

Setidaknya, pahit lebih menjanjikan atas

Ketiadaan gula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dialektika .

( n ) berasal dari kata dialog yang berarti komunikasi dua arah, istilah ini telah ada sejak masa yunani kuno ketika diintrodusir pemahaman bahwa segala sesuatu berubah.

 

Lara .

( n )  sedih, susah hati,

sakit.

 

Aku menulis cerita ini saat langit sering menjatuhkan air dari awan yang hitam.

mempunyai pemaknaan tentang kecewa yang amat mendalam ketika komunikasi dua orang yang dulu saling mencinta berubah menjadi air mata, sakit hati, dan kecewa. Karena, perubahan yang sangat signifikan atas apa yang diperbuat sehingga menjadi lebur.  

Postingan populer dari blog ini

MAKNA DARI SEBUAH PERJALANAN #7

AFEKTIF SINTAKTIS #3

Berjalan Bebas