AFEKTIF SINTAKTIS #3
AFEKTIF
SINTAKTIS
Ku ucapkan banyak syukur kepada tuhan yang telah
menciptakan hati. Ku ucapkan juga rasa kasih kepada mu yang pernah singgah. Pergi
tanpa pamit, datang membuka lembaran baru dengan senyum palsu.
Kau dulu seperti cahaya yang selalu ingin ku gapai. Tetapi,
cahaya itu kian hari makin meredup hingga menghilang. Di lahap oleh jarak dan waktu. Di kekang oleh
rindu tanpa ada temu. Hingga akhirnya terpisah oleh garis bumi yang berbeda.
Kita pernah punya kesempatan, tapi kau dan aku tidak
pernah punya keberanian untuk mejadi kita. Saat aku sendiri, kau menghilang. Saat
kau mempunyai seseorang, kau datang.
Kini, kau dan aku hanya menjadi dua orang yang tidak
pernah saling sapa. Seketika lenyap dalam kehampaan setiap canda dan tawa yang
pernah kau hadirkan.
Kabar darimu yang selalu ku nanti kini hanyalah rasa
hampa yang sudah menjadi rasa biasa. Hal yang selalu ku rindukan sudah tak
kurasa. Bahkan, ucapan selamat pagimu yang selalu menerpa mataku ketika nada
pesan menyambut mentari pagi sudah tak dapat ku rasakan lagi. Janji demi janji
hilang di lahap oleh sang cakrawala. Senyum lekat yang selalu kau pancarkan
kini hanya menjadi bayang-bayang. Namun, rasa kasih yang pernah singgah akan
selalu melekat sampai akhir hayat menjemputku.
Rasa hangat yang pernah kau berikan, saat hujan
menerpa perjalanan di atas roda dua yang membasahi kita. Dekapan kuat yang tak
pernah kau lepas dari genggaman mu. Hingga akhirnya tergaket-kaget karena kau
mengantuk di senderan pundak ku.
Semua telah berubah sejalan dengan waktu.
Waktu
adalah dimensi dimana manusia akan melakukan perjalanan hingga menjadikan nya
sebuah kenangan.
Dimensi akan mengubah waktu yang buruk menjadi baik,
sebaliknya hal baik bisa menjadi buruk. Sedangkan kamu, adalah masa lalu yang
mengajarkan ku banyak hal. Mengajarkan bagaimana ketika kehilangan, sakit, di
acuhkan, hingga akhirnya menjadi terbiasa. Terbiasa dengan keadaan yang memaksa
untuk melupakan mu karena hati yang kian enggan untuk kembali. Terpaksa untuk
menghilang agar kau dapat hidup tentram dengan mimpi mu.
“Ya” mimpi yang kini sudah kau rencanakan dengan
nya. Mimpi untuk membuat tempat singgah yang paling indah dengannya. Kelak, dia
adalah orang yang akan meletakan cincin di jemarimu. Lalu, kau tersipu malu
dengan di saksikannya orang-orang terkasih yang hadir di hari itu.
Aku tak pernah berfikir kalau pada kenyataan nya,
ucapan demi ucapan yang kau janjikan kini menjadi hal terburuk dalam hidupku. Berbahagialah.
Manusia mana jika perjalanan hidupnya tidak
mempunyai cerita indah yang nantinya akan menjadi kenangan yang melekat saat
mereka menenemukan perjalanan baru. Menemukan jingga yang terbangun dari gelap nya
kensunyian malam.
Lalu, cahaya mentari pagi menyapamu malu-malu dengan
ucapan selamat pagi di pesan androidmu setiap harinya.
Ada hal baru yang ku sukai saat ini. membaca dan
menulis. Mengeja kata demi kata sehingga menjadi cerita kau dan aku. Tertulis
dengan kalimat penuh makna yang mewakili seluruh hati dan perasaan ini.
Aku rindu senjamu yang memberitahuku bahwa mentari
terpendam adalah bahasa kesunyian dengan hati yang saling menggenggam. Apakah
salah jika selalu namamu yang terukir, meski rasa ini tanpa akhir?
Kini kusadari, beberapa rindu yang sudah tak dapat
ku bendung. Membuat hati tersadar seberapa kuat kapasitas rindu yang dapat
kusembunyikan. Beberapa rindu memang harus dibiarkan menjadi sendu. Beberapa
kenangan memang harus dibiarkan menjadi lupakan. Beberapa luka memang harus
dibiarkan menjadi tawa. Biarlah gemercik hujan, secarik senja, secangkir kopi,
dan alunan akustik gitarku menjadi penggantimu.
Biarkan aku menikmati bahagiamu di sela-sela aku
terluka. Biarkan aku bersembunyi dibalik tawa mu dan dirinya yang kini menjadi sang
primadonamu. Tapi takkan kubiarkan kau terluka untuk kesekian kalinya dengan
orang yang berbeda.
Ketahuilah, beberapa orang rela melepaskan
genggamannya saat dirinya betambah sulit agar hatimu kosong dan bisa di genggam
oleh seseorang yang takkan pernah melepaskanmu.
Kau bilang, aku adalah orang pertama yang akan meletakan
cincin di jemarimu. Kau juga bilang kalau kita nanti akan membuat tempat
singgah yang paling indah. Namun, itu hanya impian kosong yang terucap di bibir
manismu. Aku mengira itu akan menjadi cita-cita kita kelak. Tetapi tidak, itu
hanya khayal mu yang membayangi melebihi ekspetasi terburuk sepanjang sejarah
hidupmu.
Berbahagialah untukmu
yang pernah menjabat sebagai orang paling terkasih di hati. Sampaikan salam
tanpa temu, rindu tanpa tahu menahu, kepada orang yang kini sedang kau rindu.
Afektif
( n ) berkenaan dengan perasaan (seperti takut,
cinta); 2 mempengaruhi keadaan perasaan dan emosi; 3 Ling mempunyai gaya atau makna yang menunjukkan perasaan (tentang gaya bahasa
atau makna.
Sintaktis
( n ) digunakan untuk merujuk langsung pada
peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun.
Cerita ini merujuk pada
kehendak hati yang tersakiti oleh perasaan yang kian suram. Sebuah dimensi
waktu yang tidak dapat kembali untuk mengarungi kenangan yang masih melekat
hingga kini. Rasa hampa menyelimuti setiap saat, tetapi sudah menjadi rasa
biasa.