DIALEKTIKA LARA #1
DIALEKTIKA LARA Harapan bersemayam bersama angan. Menjadi bayang-bayang dalam setiap ruang dialektika lara. Sebongkah kisah tertulis dalam coretan diary kecil dan tasbih yang pernah kau berikan. Hingga kini masih tersimpan dengan rapi, bertuliskan kegiatanmu sehari-hari saat kau sedang rindu. Sesekali bercerita keluh kesah atas apa yang kau lakukan saat itu. Pulang membawa rindu dan saat itu juga kita bertemu. Senyum tawamu mengingatkan ku betapa damai dan bersykurnya aku. Ya, bersykur telah memilikimu. Tapi, dulu. Sudah 1.825 hari berlalu begitu saja tanpa sapa. Bayanganmu pun kini tak dapat lagi ku pegang erat-erat. karena hati yang kian hari makin sekarat. Aku tidak pantas mengatakan kalau ini adalah takdir tuhan. Tetapi, ini adalah sebuah kesalahan besar yang pernah terlakukan seumur hidup mu. Sore masih memancarkan sinar senjanya. Hujan masih saja membawa luka kenangan pahit kala itu. Dan tak satupun rindu dibiarkan menemui le...